Wakil UEFA di Piala Dunia, akan menggunakan format baru dengan melibatkan 32 tim, dan akan diselenggarakan di Amerika Serikat mulai 14 Juni hingga 13 Juli 2025. UEFA mendapatkan alokasi 12 slot sebagai konfederasi dengan kekuatan tertinggi di tingkat klub. Penentuan wakil-wakil UEFA didasarkan pada dua jalur utama: juara Liga Champions dari empat musim terakhir dan peringkat klub terbaik berdasarkan koefisien UEFA periode 2020/21 hingga 2023/24.
Kenapa Liverpool dan Barcelona Absen?
Meski Liverpool dan Barcelona merupakan raksasa Eropa dan tampil impresif di level domestik, keduanya tidak lolos ke Piala Dunia Antarklub 2025. Hal ini di sebabkan oleh sistem dua klub maksimal per negara. Inggris telah diwakili oleh Chelsea (juara UCL 2020/21) dan Manchester City (juara UCL 2022/23), sementara Spanyol diwakili oleh Real Madrid dan Atlético Madrid. Alhasil, meski memiliki poin koefisien yang cukup, Liverpool dan Barcelona tersingkir karena jatah maksimal dari negara mereka sudah terpenuhi.
Alokasi Lengkap Klub UEFA
Wakil UEFA di Piala Dunia, sepuluh slot lainnya di berikan berdasarkan akumulasi poin koefisien UEFA. Klub-klub yang hampir pasti tampil antara lain Bayern Munich, PSG, Inter Milan, Borussia Dortmund, Juventus, Porto, Benfica, dan beberapa tim kuat lainnya yang stabil di kompetisi Eropa. Sistem ini bertujuan menghadirkan tim-tim terbaik dengan konsistensi performa tinggi di Liga Champions.
Bacaj artikel lain juga yuk : Kabar Terbaru dari Liga 1 Indonesia Hasil, Klasemen, dan Highlight
Kritik dan Dampak Kebijakan
Sistem pembatasan dua klub per negara menuai kritik karena mengorbankan klub-klub besar yang secara kualitas layak tampil. Liverpool dan Barcelona adalah contoh nyata dari efek kebijakan ini. Di sisi lain, sistem ini juga membuka peluang bagi tim dari liga berbeda untuk berpartisipasi. FIFA sendiri kabarnya mempertimbangkan revisi format untuk edisi 2029, termasuk kemungkinan menambah peserta menjadi 48 klub dan pelonggaran batas kuota per negara.
Sistem Koefisien UEFA: Penentu Kelayakan
Koefisien UEFA menjadi kunci utama dalam menentukan 10 dari 12 wakil Eropa. Sistem ini menghitung performa klub selama empat musim terakhir di kompetisi Eropa, terutama Liga Champions dan Liga Europa. Klub yang konsisten melangkah jauh mendapat poin lebih tinggi, sehingga tak heran tim seperti Bayern Munich dan PSG masuk daftar, meskipun bukan juara UCL dalam periode itu.
Batas Maksimum Dua Klub per Negara
Kebijakan UEFA dan FIFA yang membatasi maksimal dua klub per negara di Club World Cup menimbulkan polemik. Tujuannya memang untuk menjaga keragaman wakil antar negara, namun efek sampingnya adalah gugurnya klub-klub kuat seperti Liverpool dan Barcelona. Padahal secara koefisien, keduanya lebih baik dari beberapa klub yang lolos. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah keadilan harus di korbankan demi representasi geografis.
Dampak bagi Klub yang Tersingkir
Gagal tampil di turnamen global sekelas Piala Dunia Antarklub tentu menjadi kerugian besar bagi klub seperti Liverpool dan Barcelona, baik secara prestise maupun finansial. Potensi pendapatan dari hak siar, sponsor global, dan eksposur pasar baru terlewatkan. Selain itu, peluang unjuk gigi di panggung dunia juga hilang—yang bisa berdampak pada nilai jual pemain dan daya tarik klub di mata investor.
Peluang Revisi Format di Masa Depan
Melihat dinamika ini, FIFA sudah mulai membuka pembahasan untuk edisi 2029 dengan kemungkinan memperbesar jumlah peserta menjadi 48 klub. Jika benar di realisasikan, aturan dua klub per negara bisa di longgarkan, memberi kesempatan bagi lebih banyak tim besar tampil. Ini akan menjadi win-win solution—antara menjaga kualitas dan memperluas representasi global dalam satu turnamen megabintang.